Wednesday, February 29, 2012

Epic Generation Y Is Epic

Apakah anda pernah mendengar tentang “Generation Y”? Generasi Y (dalam tulisan ini selanjutnya disebut dengan Gen-Y) adalah terminologi yang mengacu kepada satu generasi yang lahir diantara tahun 1976 sampai 1995 atau ada juga sumber yang mengatakan diantara tahun 1988 sampai 2001. Gen-Y adalah anda-anda sekalian (dengan asumsi bahwa kebanyakan pembaca blog ini berusia pertengahan 20 sampai awal 30an) dan juga generasi yang lebih muda semisal adik atau keponakan anda yang masih berada di usia remaja dan kanak-kanak. Misalkan mereka sepakat bahwa yang dipakai adalah gabungan dari kedua rentang waktu yang telah disebutkan sebelumnya, maka  secara sederhana Gen-Y ini dapat dibagi menjadi tiga misalnya, generasi “awal” (mereka yang lahir di tahun 1976 sampai 1984) Lalu generasi “tengah” (kelahiran 1985-1993) dan kemudian generasi “akhir” (kelahiran 1994-2000an).

Generasi awal pada saat ini mungkin adalah mereka yang sekarang bekerja di level middle dan top manager. Generasi ini adalah generasi yang sudah mapan, memiliki peran penting dalam bidang pekerjaan masing-masing, mungkin sudah berkeluarga, mandiri secara finansial dan mungkin juga sudah memiliki anak. Kemudian generasi tengah secara umum adalah mereka yang berusia pertengahan 20-an. Sudah bekerja selama 2-3 tahun, mungkin masih banyak yang belum masuk level top manajerial, belum begitu mapan dan mandiri secara finansial, sudah mulai berpikir tentang masa depan, namun dibarengi dengan hasrat hura-hura dan bersenang-senang yang relatif masih sangat tinggi. Sedangkan generasi akhir adalah mereka yang masih mengenyam pendidikan formal. Mahasiswa dan mahasiswi tingkat awal, remaja dan juga para pelajar.

Lalu apa sih sebenarnya karakteristik dari Gen-Y ini? Satu hal yang paling menonjol adalah kedekatan dengan teknologi, dan juga kemudahan dalam mengakses sumber-sumber informasi yang tak terbatas. Generasi ini dianggap sangat familiar dengan perkembangan teknologi komunikasi, media massa, dan era digital. Sumber lain menyebutkan bahwa Gen-Y adalah generasi yang lebih mudah menerima perubahan, cenderung open minded, dan lebih percaya diri untuk tampil dan mengemukakan pendapat. Generasi ini adalah generasi online, dengan smartphone di tangan kanan dan PC tablet di tangan kiri. Dengan kapasitas otak yang terus bekerja untuk mengolah terpaan arus informasi yang tiada henti. Mudahnya, Gen-Y adalah apa yang kini disebut sebagai “Internet Generation”.

Pic Source : http://tinyurl.com/75nmnhy 

Bagi sebagian besar dari Generasi Y yang hidup di kota-kota besar, hari tanpa internet adalah sama seperti kembali berada di zaman batu, mereka tidak bisa hidup tanpa mengakses detik.com, gelisah jika tidak bisa melihat Timeline di Twitter dan mengupdate status di Facebook, dan merasa kuper apabila ketinggalan jokes terbaru yang ada di situs 9gag. Mungkin sebagian dari anda tidak percaya dan menganggap hal ini berlebihan. Ada argumen bahwa di kota-kota kecil atau pedesaan mungkin tidak sampai seperti itu. Namun percayalah bahwa perubahan perilaku itu sedikit-demi sedikit sedang terjadi. Dan bahwa meskipun kesenjangan informasi masih sangat tinggi antara perkotaan dan pedesaan, namun pada akhirnya masyarakat pedesaan juga tidak akan bisa lepas dari pengaruh perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Tidak bisa dipungkiri bahwa generasi Y adalah pemicu kemunculan ‘masyarakat informasi’. Dimana informasi (dan akses informasi) kini menjadi sebuah hal yang sangat dihargai dan dijunjung tinggi.

Dalam sebuah artikel yang khusus membahas tentang Generasi Y, dikatakan bahwa generasi ini adalah generasi yang terbuka, kreatif, cenderung egaliter, menolak hierarki, memiliki kesadaran sosial serta politik yang cukup tinggi dan percaya bahwa masing-masing dari mereka adalah pihak yang dapat memiliki semangat perubahan. Namun disisi lain, kadang ketergantungan pada teknologi dan keinginan untuk berkarya dan mengejar prestasi yang terlalu berlebihan juga membuat mereka memiliki tingkat stress yang cukup tinggi, semakin materialistis, sering kehilangan waktu pribadi tanpa disadari, dan juga cenderung egois dalam hal-hal tertentu. Dua hal diatas adalah paradox yang terjadi dalam wacana tentang Gen-Y. Dan membicarakan Gen-Y bagi saya akan sejalan dengan bagaimana kita menyikapi perkembangan teknologi, terutama teknologi komunikasi dan informasi yang sangat mempengaruhi keseharian mereka. Bagi saya, Gen-Y seharusnya memiliki kesadaran yang tinggi tentang Civic Engagement dan perubahan sosial (ini akan saya bahas dalam tulisan berikutnya).

Dalam sebuah penelitian yang dibuat oleh PEW Research dan Elon University di Amerika pada 1021 responden pengguna internet, didapat data yang menarik bahwa secara garis besar ternyata ada dua prediksi tentang masa depan dari “Internet Generation”. 55% responden menyatakan optimisme mereka bahwa generasi mendatang akan mengalami perubahan positif dalam perilaku pembelajaran, dan mereka akan dapat mengelola informasi secara lebih bak dan lebih cepat dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kompleks. Di sisi lain, sekitar 42% responden sangat pesimis terhadap generasi mendatang dan menyatakan bahwa perkembangan internet akan menyebabkan generasi yang serba banal, instan dan pemalas. Mereka tidak mengolah informasi, namun justru hanya akan tenggelam dalam hiburan-hiburan digital dan interaksi via media sosial. Mereka akan kehilangan kemampuan untuk berpikir mendalam, kehidupan sosial tatap muka mereka akan berkurang drastis dan ketergantungan serta kecanduan mereka pada fungsi internet dan mobile devices akan semakin tinggi.

Lalu bagaimana dengan saya pribadi? Saya masuk dalam golongan orang yang optimis dalam menatap masa depan bagi Gen-Y dan Internet Generation. Bagi saya hasil penelitian di atas tentu saja tidak bisa dijadikan satu-satunya pegangan akan kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Walaupun demikian, data itu dapat dijadikan sebuah reminder, sebuah pengingat bahwa kita sebagai bagian dari Gen-Y sedikit banyak mempunyai tanggung jawab untuk apa yang akan terjadi di generasi berikutnya. Mungkin sebagian dari kita akan berpikir bahwa usia kita masih belum terlalu muda, belum punya power, tidak cukup pintar, dan belum mampu memberikan kontribusi yang berarti bagi generasi mendatang. Namun menurut saya pendapat tersebut sangat-sangat salah.

Bagi saya kontribusi bukanlah sebuah kata-kata menakutkan yang dapat memberatkan kehidupan anda. Kontribusi tidak melulu berarti perubahan radikal pada kehidupan anda. Sama halnya, seperti bila anda memiliki kepedulian terhadap pendidikan, anda tidak perlu berhenti dari pekerjaan anda dan berbondong-bondong mengikuti program “Indonesia Mengajar” untuk berkontribusi pada pendidikan. Selalu ada cara lain yang lebih masuk akal dan sesuai dengan keadaan anda untuk dilakukan. Kontribusi pada hakikatnya selalu dimulai pada tahap kesadaran. Saya pikir kita bisa sepakat dengan fakta bahwa kesadaran akan berubah dengan cara mengembangkan pengetahuan dan wawasan anda. Dan tentu saja makna kontribusi akan selalu berbeda pada masing-masing individu. Justru disitulah potensi besar dari pluralitas perkembangan pengetahuan. It’s all about being fully aware about our social responsibillity, and finding the right cause and ideas that worth spreading. 

Jika Anies Baswedan sebagai founder dari Indonesia Mengajar pernah bilang; It’s better to light a candle than curse the darkness, menurut saya akan lebih tepat bagi generasi kita untuk mengatakan bahwa It would be much better to light a fucking flamethrower than curse the darkness. Because the Era of Information Society made us stronger and more aware. An idea of changes grows and spreads faster than before. Saya percaya bahwa jumlah anak muda yang peduli, yang resisten terhadap kesewenang-wenangan dan tindakan otoriter penguasa, yang mengambil tindakan nyata untuk berkontribusi terhadap perubahan ke arah yang lebih baik akan terus bertambah jumlahnya dibandingkan dengan mereka yang serba apatis terhadap keadaan. This is our era, and it’s gonna be legend.. wait for it… DARY !!!!

Tuesday, January 31, 2012

Dekonstruksi Rutinitas dan Kontemplasi Sehari-Hari (1)

“Sometimes when we lose ourselves in fear and despair, in routine and constancy.. We can still find reassurance in a familiar hand on our skin.. Or a kind and loving gesture.. Or a subtle encouragement.. Or a loving embrace.. Or an offer of comfort.. and maybe, the occasional piece of fiction. And we must remember that all these things, the nuances, the anomalies, the subtleties which we assume only accessorize our days, are in fact here for a much larger and nobler cause. They are here to save our lives." – Stranger Than Fiction"
Kutipan di atas berasal dari film “Stranger Than Fiction” yang mengisahkan tentang kehidupan seorang pegawai IRS (semacam kantor pajak di Amerika) bernama Harold Crick yang dimainkan secara sangat baik oleh Will Ferrel. Dalam film itu, Harold digambarkan sebagai contoh klasik dari kehidupan pekerja kelas menengah di dunia modern. Ia adalah pria sederhana yang pendiam, tidak punya banyak teman, jarang bersenang-senang, dan baginya pekerjaan adalah satu-satunya hal yang dia miliki. Kehidupan sehari-harinya penuh dengan rutinitas yang diulang-ulang. Bangun, mandi, memilih pakaian kerja yang sama tiap hari, sarapan dengan menu yang kurang lebih sama tiap hari, berangkat ke kantor dengan rute yang selalu sama, naik bis yang sama pada jam yang sama, tiba di kantor, kerja, pulang, tidur, lalu bangun dan memulai rutinitas yang sama. Begitu terus setiap hari, dan ia sama sekali tidak merasakan ada yang aneh dari rutinitas itu. Tidak ada rasa bosan, statis. Hingga tiba-tiba secara tak sengaja ia dapat mendengar semacam suara-suara aneh di kepalanya, dan menyadari bahwa ternyata suara-suara itu adalah narasi hidupnya dan (somehow) kehidupannya tak lebih dari cerita fiksi belaka. Ia adalah tokoh utama dari sebuah novel fiksi yang sedang ditulis oleh seorang novelis bernama Karen Eiffel (diperankan oleh Emma Thompson).

Cerita berjalan dan akhirnya ia merasakan bahwa seolah-olah sang penulis inilah yang menentukan seperti apa kehidupannya lewat suara-suara itu. Sang penulis punya kendali penuh atas kehidupannya sehari-hari, dia dapat memutuskan seperti apa karirnya, bagaimana kehidupan percintaannya, singkatnya, bagi Harold, Karen sang novelis, adalah “Tuhan” yang memiliki kendali penuh atas hidupnya. Dan ketika Harold mengetahui bahwa ternyata Karen berniat untuk membunuh karakternya dan mengakhiri novelnya  (which means in reality he will also die), ia memutuskan untuk keluar dari rutinitas hidup yang telah diatur oleh Karen, dan membangkang dari narasi “takdirnya”. Kelanjutannya silahkan ditonton sendiri, filmnya sudah tidak begitu baru tapi still recommended to watch. Anyway, film ini memiliki berbagai pesan filosofis yang cukup berhubungan dengan konsep “dekontruksi dari rutinitas” yang akan saya ceritakan

Secara ekstrim, film ini seperti ingin menunjukkan bahwa pada satu titik, Harold adalah anda, adalah saya, adalah jutaan orang di dunia yang menjalani hidupnya setiap hari dengan rutinitas yang kaku. Ia adalah gambaran dari orang-orang yang terjebak pada pola hidup simplisistik. Pada hidup yang seolah-olah sudah diatur dengan segala variabel X dan Y nya oleh “sang penulis cerita” tanpa menyisakan kuasa dari diri kita sebagai manusia yang bebas. Dalam keadaan demikian, Harold adalah korban dari keteraturan, dari tata tertib yang berlebihan, dari sistem pekerjaan dan rutinitas dunia modern yang menimbulkan keterasingan (alienasi-Karl Marx). Keterasingan dirinya dari alam, dari dirinya sendiri, dari aktivitasnya sendiri, dan dari manusia lain.



Siapa yang bisa menyangkal bahwa dalil yang berlaku di sebagian besar masyarakat dan keluarga kita tentang kehidupan memang kadang terlalu simplisistik? Dari lahir, kita sudah diberi jalur yang ditetapkan oleh orang tua kita, lengkap dengan beragam aturan yang mau tidak mau harus kita penuhi. Belajarlah baca tulis agar bisa sekolah, luluslah sekolah agar bisa kuliah, luluslah kuliah supaya mendapatkan pekerjaan, carilah uang sebanyak-banyaknya, bersenang-senanglah di hari sabtu dan minggu, kemudian berdoa dan berharaplah agar bertemu dengan jodoh anda, menikah, punya rumah, punya anak, membesarkan anak, lalu jejalkan cara hidup simplisistik itu kepada anak anda.

Bahkan cara hidup pun telah direduksi menjadi sebuah rutinitas, dan banyak yang tidak mempertanyakan hal itu ! Percayalah, jika anda ternyata adalah salah satu penganut setia dari dalil ini, akan semakin banyak orang-orang yang mengalami alienasi dari kehidupannya. Maka manusia, seperti kata Marx, hanya akan menjadi bagian dari mesin-mesin kapitalisme yang bisa diperas habis lewat rutinitas pekerjaannya lalu dibuang dan digantikan oleh manusia lain. Tapi, sebenarnya, apakah “rutinitas” memang seburuk itu? Apakah kita memang tanpa sadar sudah menjadi robot pekerja yang telah dicabut akar kemanusiaannya dan secara sukarela menyembah keuntungan material sebagai tuhan dari segala tuhan? Tidak juga. Bagi saya, rutinitas yang berbahaya adalah rutinitas yang tidak memberikan ruang (dan waktu) kepada manusia untuk berkontemplasi dan mempertanyakan makna dari rutinitasnya itu.

Di era modern ini, katakanlah kita memiliki waktu 24 jam, tidur tujuh jam sehari, maka tinggal ada 17 jam waktu kita terjaga. Sedangkan jam kerja rata-rata pekerja (tanpa lembur) adalah delapam jam, sehingga tinggal ada sembilan jam waktu kita di luar bekerja pada jam kantor. Lalu, coba hitung berapa waktu yang digunakan untuk berada di tengah kemacetan, berapa waktu yang habis untuk menyerap informasi (dari semua media massa dan gadget yang selalu menempel di tangan), berapa waktu yang digunakan untuk mengobrol dan bergosip dengan rekan-rekan kita. Untuk “nongkrong”, atau “hang-out”, atau berbagai kegiatan rekreasi lainnya? Kehidupan kita saat ini bisa dibilang sebagai kehidupan yang sangat melelahkan karena tanpa sadar tiap detiknya kita selalu mempunyai hal-hal untuk dipikirkan atau dimintai fokus dan perhatiannya. Selalu ada distraksi, ada gangguan. Memang kita memiliki waktu untuk istirahat, tapi apakah kita benar-benar ‘beristirahat’ jasmani dan rohani?

-End of Part 1. You could read part 2 in my other blog "Daily Eureka" 

Monday, December 26, 2011

Internet dan Media Sosial Pada Anak (1)

Pic Source : http://tinyurl.com/7ko93x9  
Sebuah penelitian yang baru-baru ini dilakukan oleh wearesocial.org, menyatakan bahwa dari 237.556.363 populasi Indonesia, ada sebanyak 39.600.000 pengguna internet dan 40.829.720 pengguna situs media sosial. Artinya, 60% dari penduduk Indonesia sudah sangat familiar dengan Internet dan media sosial. Pada laporan itu juga disebutkan bahwa lebih dari separuh pengguna Internet di Indonesia berusia di bawah 20 tahun, dan sekitar 61% dari akses internet dilakukan lewat telepon genggam . Dari sedikit gambaran di atas, terlihat bahwa Indonesia adalah negara yang sangat terbuka terhadap perkembangan teknologi komunikasi dan Informasi khususnya media sosial. Tentu masih hangat dalam pikiran kita bagaimana euforia Media Sosial, pertama-tama melalui Friendster, MySpace lalu muncul Facebook dan Twitter terlihat sangat cepat diadopsi oleh masyarakat Indonesia, terutama oleh kaum muda. Facebook terutama, adalah sebuah kesuksesan besar di Indonesia dengan data bahwa jumlah penggunanya di Indonesia adalah yang ke dua terbanyak di seluruh dunia. 

Perkembangan Internet dan media sosial di Indonesia sangat pesat terlihat di awal tahun 2005, dengan semakin banyaknya tempat yang mempunyai fasilitas free Wi-Fi, dan juga teknologi mobile broadband yang semakin berkembang membuat akses internet menjadi semakin mudah dan dapat dinikmati oleh siapa saja. Peningkatan luar biasa dari pengguna media sosial, terutama Facebook di Indonesia khususnya juga dipengaruhi oleh penetrasi smartphone, terutama Blackberry. Blackberry di Indonesia kini tidak lagi menjadi sebuah barang yang terkesan ‘mahal’, karena sebagian besar masyarakat kelas menengah ke atas kini telah menganggap Blackberry dan fasilitas yang ditawarkannya (seperti BBM, Push Email, dan Media Sosial) sebagai bagian dari pergaulan sosial sehari-hari.  

Dengan semakin terjangkaunya harga Blackberry dan Smartphone lainnya, pengguna yang awalnya sebagian besar adalah kalangan pekerja dan professional, kini telah merambah ke kalangan pelajar dan mahasiswa. Yang mengkhawatirkan kini adalah fakta bahwa ternyata penetrasi smartphone juga telah merambah kepada anak-anak yang notabene masih belum cukup umur (belum matang secara mental dan emosional) untuk menggunakannya. Dengan situasi seperti itu, kini kita juga dapat dengan mudah melihat anak-anak yang berusia dibawah umur namun sudah memiliki akun Facebook. Batas legal penggunaan Facebook seperti ditulis di situs resminya sebenarnya adalah 13 tahun. Namun nyatanya hal itu seperti tidak digubris oleh masyarakat kita, terutama oleh para orangtua. Banyak diantara para orangtua yang tidak paham dan kadang acuh tak acuh dengan perkembangan Internet dan teknologi komunikasi saat ini. Kebanyakan orang tua biasanya hanya memberi anaknya smartphone, atau pc dan akses internet, tanpa kemudian mendampingi dan mengawasi penggunaannya. 

Hal ini patut dicermati karena masyarakat Indonesia, walaupun tergolong sebagai masyarakat yang fleksibel dalam pengadopsian teknologi baru, namun sebagian besar masih belum memiliki pemahaman tentang literasi teknologi dan informasi. Banyak yang tidak menyadari bahwa kurangnya pengawasan terhadap aktivitas online anak-anak di bawah umur merupakan bahaya laten bagi perkembangan sang anak itu sendiri. Internet adalah sumber informasi yang sangat berguna dan tanpa batas. Seseorang dapat mencari informasi apapun yang ia kehendaki hanya dengan menuliskannya pada mesin pencari. Namun ‘tanpa batas’ tidak melulu positif, karena sebaliknya di Internet juga banyak sekali informasi-informasi yang kurang tepat apabila dikonsumsi oleh anak-anak di bawah umur seperti misalnya tentang pornografi, kekerasan, dan lain-lain. 

Gerakan untuk mendukung literasi media, terutama yang menyangkut persoalan aktivitas online sebetulnya sudah ada namun jumlahnya masih sangat sedikit. Salah satu contohnya adalah gerakan ‘internet sehat’ yang dicetuskan oleh organisasi nirlaba bernama ICTWatch, atau juga dilakukan oleh organisasi independen yang bernama “literasimedia” di Jakarta dan “Melekmedia” di Bandung. Namun patut diakui bahwa kegiatan-kegiatan yang mereka adakan masih belum dapat dijadikan basis dari gerakan literasi media dalam skala nasional. Dan masih sangat jauh rasanya mengharapkan adanya ‘kurikulum media literasi’ seperti yang telah ditetapkan oleh Amerika sejak lama. 

Faktanya, di Indonesia saat ini penelitian dan jurnal-jurnal yang mengkhususkan diri tentang penggunaan internet dan media sosial oleh anak-anak di Indonesia masih sangat jarang ditemui. Kalaupun ada, biasanya penelitian atau survey yang diadakan itu sifatnya lebih kepada Market Research atau riset pasar yang digunakan untuk kepentingan komersial alih-alih penelitian yang berorientasi pada kegiatan sosial atau akademik. Hal yang sangat kontras terjadi di Eropa dan Amerika. Di tahun 2006 sampai 2009, EuKids Online, sebuah lembaga riset independen di Inggris yang berada di bawah naungan Departemen Media dan Komunikasi dari London School Of Economics, melakukan sebuah studi di 18 negara di Uni Eropa untuk mengetahui seperti apakah penggunaan internet dan new media pada remaja dan anak-anak. Penelitian ini juga bertujuan untuk membandingkan temuan dari berbagai negara tersebut, serta mengevaluasi secara komprehensif faktor-faktor sosiokultural, peran orang tua, dan faktor regulasi yang berkaitan dengan penggunaan internet di di tiap-tiap negara. Selain itu, pada Januari 2010 sebuah studi juga dilakukan oleh Kaiser Family Foundation di Amerika untuk mengetahui penggunaan media pada anak berusia 8 tahun sampai dengan remaja yang berusia 18 tahun. Penelitian ini dilakukan di seluruh negara bagian Amerika dengan sample sebanyak 2000 orang. Kalau di Indonesia bagaimana? Sudah berbulan-bulan saya melakukan pencarian di Internet, dan sampai saat ini belum menemukan penelitian dengan tema sejenis. Sebetuulnya mungkin saja ada penelitian sejenis tapi tidak dipublikasikan lewat internet, atau topik tersebut mungkin memang belum dilihat sebagai masalah yang penting.

Hal ini sudah seharusnya menjadi perhatian khusus dari pihak-pihak yang terkait baik itu dari pihak akademisi, LSM maupun pemerintahan. Pemerintah juga seharusnya lebih peka dan menyadari bahwa pada hakekatnya gerakan literasi media bukan hanya sekadar seminar-seminar atau diskusi dengan pembicara yang menyajikan materi secara satu arah di hotel atau di kampus-kampus. Karena pada hakekatnya gerakan litreasi media harus selalu berfokus pada masyarakat. Dan gerakan ini adalah geakan yang membutuhkan lebih banyak aksi yang nyata ketimbang diskusi belaka. Literasi media harus selalu berbasis pada data di lapangan, dan juga dilakukan di tempat yang dapat menjangkau masyarakat umum. Tanpa adanya penelitian dan data-data yang kuat, tentunya akan sulit juga untuk meyakinkan masyarakat umum akan pentingnya mengawasi aktivitas penggunaan internet dan media sosial di kalangan anak-anak. Selanjutnya gerakan literasi media juga sebaiknya dimulai dari berbagai macam level, edukasi harus dilakukan kepada anak-anak lewat institusi pendidikan formal, dan juga edukasi kepada para orangtua, dan memberi pengertian akan pentingnya pemahaman serta pengawasan media anak kepada mereka secara langsung.  

In my honest opinion, it's like an obligation for us, which are so-called generation "Y", to start a social movement about digital media literacy. Educate more and more people. Start within your own families, start within your own neighborhood, and start it, right now. Jika bukan saya atau anda yang memulai, lalu siapa? Kalau tidak sekarang, lalu kapan? 

Tuesday, November 15, 2011

All My Days


Well I have been searching all of my days, all of my days. 
Many a road, you know, I've been walking on all of my days. 
And I’ve been trying to find what’s been in my mind
As the days keep turning into night, 
Well I have been quietly standing in the shade 
All of my days, Watch the sky breaking on the promise that we made
All of this rain and I’ve been trying to find what’s been in my mind. 
As the days keep turning into night, 
well many a night I found myself with no friends standing near
All of my days, I cried aloud, I shook my hands
What am I doing here, All of these days
For I look around me, And my eyes confound me
And it’s just too bright, As the days keep turning into night
Now I see clearly It’s you I’m looking for, All of my days
Soon I’ll smile, I know I’ll feel this loneliness no more
All of my days, For I look around me
And it seems He found me, and it’s coming into sight
As the days keep turning into night
As the days keep turning into night
And even breathing feels all right
Yes, even breathing feels all right
Now even breathing feels all right
It’s even breathing
Feels all right

Alexi Murdoch - All My Days