Melihat dilihat.


A photographer is a person who takes photographs using a camera. A professional photographer uses photography to make a living while amateur photographers take photographs for pleasure and to record an event, place or person.

A professional photographer may be an employee, for example of a newspaper, or may contract to cover a particular event such as a wedding or graduation, or to illustrate an advertisement. Others, including paparazzi and fine art photographers, are freelancers, first making a picture and then offering it for sale or display.

Photographers are also categorized based on the subjects they photograph. Some photographers explore subjects typical of paintings such as landscape, still life, and portraiture. Other photographers specialize in subjects unique to photography, including street photography, documentary photography, fashion photography, wedding photography, war photography, photojournalism and commercial photography.

source : wikipedia

Posted at di 9:22 PM on Sunday, January 17, 2010 by Diposkan oleh Detta | 1 komentar Link ke posting ini   | Filed under:

There's no such thing as a happy ending, if we stop searching for it.

"Harapan itu tai", katanya. Saya terkejut, saya marah, saya merasa dihina. Karena saya adalah orang yang penuh dengan harapan. Saya hidup dengan harapan, saya berbicara tentang harapan. Oh ya, hidup saya penuh dengan harapan. Mata saya berbinar-binar, mulut saya berbusa-busa ketika saya berbicara tengtang harapan. Tapi dia tetap berkata, bahwa "harapan itu tai". Berarti saya adalah orang yang penuh dengan tai. Saya hidup dengan tai, saya berbicara tentang tai, oh ya, hidup saya penuh dengan tai. Tai, tai, tai, dan tai.

Tapi saya lupa, tiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri. Adalah hak seseorang untuk berkata demikian. "My life sucked" katanya. Mungkin kita juga perlu untuk berkata "So be it". I'm understand, but i refuse to agree with you. Saya mungkin terlalu terbiasa melihat sesuatu dari sisi yang baik. Saya lupa, tidak semua orang memiliki kehidupan yang se"bahagia" saya. Mungkin saya lupa, bahwa tiap manusia memiliki keterbatasan dan perasaan yang berbeda. Saya lupa, bahwa tiap orang berhak untuk marah, sedih, dan merasa kehilangan harapan.

People deserve to breakdown. Dan ada saatnya mereka menutup telinga dari harapan. Pada saat-saat seperti itu mungkin manusia akan lari, berharap untuk menyingkirkan kemarahan, yang sayangnya, hanya sebentar. Sebelum kemudian kemarahan itu kembali datang. Perasan "kehilangan harapan" itu kembali datang. Namun, saya percaya bahwa tiap manusia berhak untuk merasakan kedamaian bagi diri mereka sendiri. Setelah kemarahan, setelah segala rasa benci, setelah semua sumpah serapah dan makian, pasti ada kedamaian.

Dead = Rest In Peace, katanya.

Mungkin itu titik akhir, mungkin itu jawaban bagi tiap manusia yang kehilangan harapan. Tapi, apakah harus seperti? Tidak bagi saya. I refuse to give up. Saya menolak untuk tidak berusaha. I don't want to rest in peace, i have to search or create my own peace, cause i believe that i deserve it. Jadi jangan salahkan diri saya, apabila saya terus menerus membicarakan tentang harapan. I don't care if you see me as a man that talk about shit. Cause i believe about that shit. I refuse to give up, cause i love you. I love you and i'm ready to feel like shit. Cause i'm fucked up too, just like you. We're all messed up, we're all fucked up.

Kita berhak marah kepada kehidupan. Oh ya, kita berhak, karena kita adalah manusia. Air mata, senyum, amarah, harapan, makian, adalah hadiah sekaligus kutukan, bagi kita manusia. But we deserve to be happy. We deserve to live a meaningful life. Cause i love you, and i believe the word "Hope" and "Faith" standing between the word "Happines". Me I'm a fool, spent from defiance, yeah you got me but I don't wanna give up on you. As long as you're ready to hold on, I promise I will take you there.

Posted at di 11:27 AM on Wednesday, January 13, 2010 by Diposkan oleh Detta | 1 komentar Link ke posting ini   | Filed under: