Apakah anda pernah mendengar tentang “Generation Y”? Generasi Y (dalam tulisan ini selanjutnya disebut dengan Gen-Y) adalah terminologi yang mengacu kepada satu generasi yang lahir diantara tahun 1976 sampai 1995 atau ada juga sumber yang mengatakan diantara tahun 1988 sampai 2001. Gen-Y adalah anda-anda sekalian (dengan asumsi bahwa kebanyakan pembaca blog ini berusia pertengahan 20 sampai awal 30an) dan juga generasi yang lebih muda semisal adik atau keponakan anda yang masih berada di usia remaja dan kanak-kanak. Misalkan mereka sepakat bahwa yang dipakai adalah gabungan dari kedua rentang waktu yang telah disebutkan sebelumnya, maka secara sederhana Gen-Y ini dapat dibagi menjadi tiga misalnya, generasi “awal” (mereka yang lahir di tahun 1976 sampai 1984) Lalu generasi “tengah” (kelahiran 1985-1993) dan kemudian generasi “akhir” (kelahiran 1994-2000an).
Generasi awal pada saat ini mungkin adalah mereka yang sekarang bekerja di level middle dan top manager. Generasi ini adalah generasi yang sudah mapan, memiliki peran penting dalam bidang pekerjaan masing-masing, mungkin sudah berkeluarga, mandiri secara finansial dan mungkin juga sudah memiliki anak. Kemudian generasi tengah secara umum adalah mereka yang berusia pertengahan 20-an. Sudah bekerja selama 2-3 tahun, mungkin masih banyak yang belum masuk level top manajerial, belum begitu mapan dan mandiri secara finansial, sudah mulai berpikir tentang masa depan, namun dibarengi dengan hasrat hura-hura dan bersenang-senang yang relatif masih sangat tinggi. Sedangkan generasi akhir adalah mereka yang masih mengenyam pendidikan formal. Mahasiswa dan mahasiswi tingkat awal, remaja dan juga para pelajar.
Lalu apa sih sebenarnya karakteristik dari Gen-Y ini? Satu hal yang paling menonjol adalah kedekatan dengan teknologi, dan juga kemudahan dalam mengakses sumber-sumber informasi yang tak terbatas. Generasi ini dianggap sangat familiar dengan perkembangan teknologi komunikasi, media massa, dan era digital. Sumber lain menyebutkan bahwa Gen-Y adalah generasi yang lebih mudah menerima perubahan, cenderung open minded, dan lebih percaya diri untuk tampil dan mengemukakan pendapat. Generasi ini adalah generasi online, dengan smartphone di tangan kanan dan PC tablet di tangan kiri. Dengan kapasitas otak yang terus bekerja untuk mengolah terpaan arus informasi yang tiada henti. Mudahnya, Gen-Y adalah apa yang kini disebut sebagai “Internet Generation”.
Generasi awal pada saat ini mungkin adalah mereka yang sekarang bekerja di level middle dan top manager. Generasi ini adalah generasi yang sudah mapan, memiliki peran penting dalam bidang pekerjaan masing-masing, mungkin sudah berkeluarga, mandiri secara finansial dan mungkin juga sudah memiliki anak. Kemudian generasi tengah secara umum adalah mereka yang berusia pertengahan 20-an. Sudah bekerja selama 2-3 tahun, mungkin masih banyak yang belum masuk level top manajerial, belum begitu mapan dan mandiri secara finansial, sudah mulai berpikir tentang masa depan, namun dibarengi dengan hasrat hura-hura dan bersenang-senang yang relatif masih sangat tinggi. Sedangkan generasi akhir adalah mereka yang masih mengenyam pendidikan formal. Mahasiswa dan mahasiswi tingkat awal, remaja dan juga para pelajar.
Lalu apa sih sebenarnya karakteristik dari Gen-Y ini? Satu hal yang paling menonjol adalah kedekatan dengan teknologi, dan juga kemudahan dalam mengakses sumber-sumber informasi yang tak terbatas. Generasi ini dianggap sangat familiar dengan perkembangan teknologi komunikasi, media massa, dan era digital. Sumber lain menyebutkan bahwa Gen-Y adalah generasi yang lebih mudah menerima perubahan, cenderung open minded, dan lebih percaya diri untuk tampil dan mengemukakan pendapat. Generasi ini adalah generasi online, dengan smartphone di tangan kanan dan PC tablet di tangan kiri. Dengan kapasitas otak yang terus bekerja untuk mengolah terpaan arus informasi yang tiada henti. Mudahnya, Gen-Y adalah apa yang kini disebut sebagai “Internet Generation”.
Pic Source : http://tinyurl.com/75nmnhy
Bagi
sebagian besar dari Generasi Y yang hidup di kota-kota besar, hari
tanpa internet adalah sama seperti kembali berada di zaman batu, mereka
tidak bisa hidup tanpa mengakses detik.com, gelisah jika tidak bisa
melihat Timeline di Twitter dan mengupdate status di Facebook, dan
merasa kuper apabila ketinggalan jokes terbaru yang ada di situs 9gag.
Mungkin sebagian dari anda tidak percaya dan menganggap hal ini
berlebihan. Ada argumen bahwa di kota-kota kecil atau pedesaan mungkin
tidak sampai seperti itu. Namun percayalah bahwa perubahan perilaku itu
sedikit-demi sedikit sedang terjadi. Dan bahwa meskipun kesenjangan
informasi masih sangat tinggi antara perkotaan dan pedesaan, namun pada
akhirnya masyarakat pedesaan juga tidak akan bisa lepas dari pengaruh
perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Tidak bisa dipungkiri
bahwa generasi Y adalah pemicu kemunculan ‘masyarakat informasi’. Dimana
informasi (dan akses informasi) kini menjadi sebuah hal yang sangat
dihargai dan dijunjung tinggi.
Dalam sebuah artikel yang khusus membahas tentang Generasi Y, dikatakan bahwa generasi ini adalah generasi yang terbuka, kreatif, cenderung egaliter, menolak hierarki, memiliki kesadaran sosial serta politik yang cukup tinggi dan percaya bahwa masing-masing dari mereka adalah pihak yang dapat memiliki semangat perubahan. Namun disisi lain, kadang ketergantungan pada teknologi dan keinginan untuk berkarya dan mengejar prestasi yang terlalu berlebihan juga membuat mereka memiliki tingkat stress yang cukup tinggi, semakin materialistis, sering kehilangan waktu pribadi tanpa disadari, dan juga cenderung egois dalam hal-hal tertentu. Dua hal diatas adalah paradox yang terjadi dalam wacana tentang Gen-Y. Dan membicarakan Gen-Y bagi saya akan sejalan dengan bagaimana kita menyikapi perkembangan teknologi, terutama teknologi komunikasi dan informasi yang sangat mempengaruhi keseharian mereka. Bagi saya, Gen-Y seharusnya memiliki kesadaran yang tinggi tentang Civic Engagement dan perubahan sosial (ini akan saya bahas dalam tulisan berikutnya).
Dalam sebuah artikel yang khusus membahas tentang Generasi Y, dikatakan bahwa generasi ini adalah generasi yang terbuka, kreatif, cenderung egaliter, menolak hierarki, memiliki kesadaran sosial serta politik yang cukup tinggi dan percaya bahwa masing-masing dari mereka adalah pihak yang dapat memiliki semangat perubahan. Namun disisi lain, kadang ketergantungan pada teknologi dan keinginan untuk berkarya dan mengejar prestasi yang terlalu berlebihan juga membuat mereka memiliki tingkat stress yang cukup tinggi, semakin materialistis, sering kehilangan waktu pribadi tanpa disadari, dan juga cenderung egois dalam hal-hal tertentu. Dua hal diatas adalah paradox yang terjadi dalam wacana tentang Gen-Y. Dan membicarakan Gen-Y bagi saya akan sejalan dengan bagaimana kita menyikapi perkembangan teknologi, terutama teknologi komunikasi dan informasi yang sangat mempengaruhi keseharian mereka. Bagi saya, Gen-Y seharusnya memiliki kesadaran yang tinggi tentang Civic Engagement dan perubahan sosial (ini akan saya bahas dalam tulisan berikutnya).
Dalam sebuah penelitian yang dibuat oleh PEW Research dan Elon University di Amerika pada 1021 responden pengguna internet, didapat data yang menarik bahwa secara garis besar ternyata ada dua prediksi tentang masa depan dari “Internet Generation”. 55% responden menyatakan optimisme mereka bahwa generasi mendatang akan mengalami perubahan positif dalam perilaku pembelajaran, dan mereka akan dapat mengelola informasi secara lebih bak dan lebih cepat dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kompleks. Di sisi lain, sekitar 42% responden sangat pesimis terhadap generasi mendatang dan menyatakan bahwa perkembangan internet akan menyebabkan generasi yang serba banal, instan dan pemalas. Mereka tidak mengolah informasi, namun justru hanya akan tenggelam dalam hiburan-hiburan digital dan interaksi via media sosial. Mereka akan kehilangan kemampuan untuk berpikir mendalam, kehidupan sosial tatap muka mereka akan berkurang drastis dan ketergantungan serta kecanduan mereka pada fungsi internet dan mobile devices akan semakin tinggi.
Lalu bagaimana dengan saya pribadi? Saya masuk dalam golongan orang yang optimis dalam menatap masa depan bagi Gen-Y dan Internet Generation. Bagi saya hasil penelitian di atas tentu saja tidak bisa dijadikan satu-satunya pegangan akan kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Walaupun demikian, data itu dapat dijadikan sebuah reminder, sebuah pengingat bahwa kita sebagai bagian dari Gen-Y sedikit banyak mempunyai tanggung jawab untuk apa yang akan terjadi di generasi berikutnya. Mungkin sebagian dari kita akan berpikir bahwa usia kita masih belum terlalu muda, belum punya power, tidak cukup pintar, dan belum mampu memberikan kontribusi yang berarti bagi generasi mendatang. Namun menurut saya pendapat tersebut sangat-sangat salah.
Bagi saya kontribusi bukanlah sebuah kata-kata menakutkan yang dapat memberatkan kehidupan anda. Kontribusi tidak melulu berarti perubahan radikal pada kehidupan anda. Sama halnya, seperti bila anda memiliki kepedulian terhadap pendidikan, anda tidak perlu berhenti dari pekerjaan anda dan berbondong-bondong mengikuti program “Indonesia Mengajar” untuk berkontribusi pada pendidikan. Selalu ada cara lain yang lebih masuk akal dan sesuai dengan keadaan anda untuk dilakukan. Kontribusi pada hakikatnya selalu dimulai pada tahap kesadaran. Saya pikir kita bisa sepakat dengan fakta bahwa kesadaran akan berubah dengan cara mengembangkan pengetahuan dan wawasan anda. Dan tentu saja makna kontribusi akan selalu berbeda pada masing-masing individu. Justru disitulah potensi besar dari pluralitas perkembangan pengetahuan. It’s all about being fully aware about our social responsibillity, and finding the right cause and ideas that worth spreading.
Jika Anies Baswedan sebagai founder dari Indonesia Mengajar pernah bilang; It’s better to light a candle than curse the darkness, menurut saya akan lebih tepat bagi generasi kita untuk mengatakan bahwa It would be much better to light a fucking flamethrower than curse the darkness. Because the Era of Information Society made us stronger and more aware. An idea of changes grows and spreads faster than before. Saya percaya bahwa jumlah anak muda yang peduli, yang resisten terhadap kesewenang-wenangan dan tindakan otoriter penguasa, yang mengambil tindakan nyata untuk berkontribusi terhadap perubahan ke arah yang lebih baik akan terus bertambah jumlahnya dibandingkan dengan mereka yang serba apatis terhadap keadaan. This is our era, and it’s gonna be legend.. wait for it… DARY !!!!


